PCI Muhammadiyah Pakistan

Sikap PCIM Pakistan Menanggapi Kasus Penistaan Agama di Indonesia

Kami dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Pakistan menyatakan sikap atas peristiwa penistaan agama yang di lakukan oleh Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai perbuatan yang merusak persatuan bangsa. Dan kami mendesak kepada aparat kepolisian agar mengadili Ahok dengan hukuman yang seadil-adilnya.

Karakter Bisnis Nabi Muhammad SAW

Said bin Abdullah pernah berkata, “Engkau (Muhammad) adalah sebaik-baik mitra (partner bisnis); tidak memperdaya dan tidak pula mendebat.”

Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan manusia. Tidak hanya dalam urusan dakwah dan sosial politik, beliau juga teladan dalam urusan bisnis. Pernyataan Saib bin Abdullah di atas sebagai buktinya, yang menggambarkan bagaimana profesionalitas Nabi dalam menjalani profesinya sebagai pebisnis. Apabila menilik sejarah, akan kita temukan bahwasanya beliau adalah pedagang yang sukses di masanya.

Sejak kecil Nabi Muhammad SAW sudah dikaruniai kecerdasan watak dan akhlak yang tinggi. Meskipun beliau berada di bawah pengasuhan pamannya Abu Thalib, untuk mengungkapkan rasa syukurnya, sebisa mungkin beliau berusaha meringankan beban perekonomian pamannya dengan ikut berdagang ke Syam dan menggembala kambing. Barangkali hasil yang diperoleh beliau tidak begitu banyak dan penting bagi pamannya.

 

Kecerdasan watak dan ketinggian akhlak yang terpupuk sejak dini tersebut telah menjadikan beliau pribadi yang jujur dan amanah. Itulah sebabnya beliau mendapat julukan Al-Amin (yang dapat dipercaya: jujur) di kalangan penduduk Makkah. Ketika kabar kejujuran Nabi tersebut sampai di telinga Khadijah yang notabene adalah saudagar kaya di Makkah, Nabi pun mendapat tawaran untuk memperdagangkan dagangannya ke Syam bersama orang kepercayaan Khadijah yang bernama Maisarah. Dalam perjalanan dagang ini Maisarah sangat mengagumi akhlak Nabi, apalagi mereka berhasil membawa pulang keuntungan yang berlipat ganda. Hal ini membuat Khadijah memberikan Nabi upah yang berlipat ganda. Hal ini juga yang menarik minat Khadijah untuk melamar Nabi.

 

Sekitar 25 tahun berkecimpung dalam dunia bisnis, Nabi telah mencontohkan etika dan moral yang ideal dalam berdagang. Menurut salah seorang pakar ekonomi Islam nasional, Muhammad Syafii Antonio, jujur, adil, ramah, cakap, senang membantu pelanggan, menjaga hak pembeli, dan tidak menjelekkan bisnis orang lain adalah karakter paten yang Nabi terapkan sehingga menjadikannya seorang pebisnis yang terpercaya.

Jujur

Jujur adalah sifat utama yang idealnya harus dimiliki oleh seorang manusia. Dan kedudukan jujur dalam Islam sangatlah urgen, sebab ia adalah salah satu pilar akidah. Begitu pula dalam bisnis, kejujuran adalah prinsip esensial. Pedagang/ pebisnis yang tidak jujur tidak ada nilainya menurut Islam. Nabi pernah bersabda,

“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual barang yang mempunyai aib kecuali ia menjelaskan aib itu.”

Seorang pedagang tidak boleh mengelabuhi calon pembeli dengan menghadirkan orang yang berpura-pura menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik membeli dengan harga tersebut. Dalam suatu keterangan disebutkan bahwa Nabi pernah bersabda,

“Janganlah kalian melakukan bisnis baiun najasy (seorang pembeli tertentu berkolusi dengan penjual untuk menaikkan harga, bukan dengan niat untuk membeli, tetapi agar menarik orang lain untuk menaikkan penawaran). Dalam sabdanya yang lain, “Siapa yang menipu kami, dia tidak termasuk golongan kami.”

Senada dengan hal itu, Allah berfirman dalam Surah An-Nisa’ ayat 29,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil kecuali dengan jalan bisnis yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.”

Adil

Adil dalam dunia bisnis bisa diwujudkan dengan tidak membeda-bedakan konsumen. Pedagang yang bersikap adil terhadap pelanggannya akan lebih disukai. Sikap yang demikian bisa membuat pelanggan merasa puas dan nyaman. Nabi menjadikan sikap adil sebagai standar utama. Kedudukan dan tanggung jawab antara beliau dan mitra bisnis/konsumen dibangun melalui prinsip keadilan, seperti sukarela dalam transaksi dan pengetahuan konsumen akan keberadaan barang dan kualitasnya. Beliau menjauhi tradisi riba yang jelas-jelas bisa membebani konsumen dan mitra bisnisnya.

Ramah

Ramah adalah suatu sikap yang mesti ditunjukkan oleh seorang pedagang. Keramahan bisa mendekatkan hubungan antara pedagang dan konsumen. Selain itu, pedagang yang menunjukkan sikap ramah akan senantiasa dirahmati Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Allah  merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis”.

Cakap

Cakapnya seorang pebisnis diukur dari pengetahuannya terkait usaha yang dijalani. Pemahaman terhadap barang dan jasa yang ditawarkan merupakan pengetahuan dasar yang sangat penting untuk dikuasai. Itulah sebabnya sebelum Nabi terjun ke dunia bisnis perdagangan, beliau terlebih dahulu membekali diri dengan magang dagang.

Mengkomunikasikan keunggulan dan kelemahan suatu produk agar konsumen “memahami” perihal produk yang hendak dibelinya adalah cerminan lain dari kecakapan seorang pebisnis. Kecakapan semacam ini mutlak dimiliki demi memuaskan pelanggan dan menjaga hubungan baik dengan mereka, termasuk kecakapan dalam menunjukkan sikap terbaik saat berinteraksi dengan mereka. Rasulullah Saw bersabda,

“Pekerjaan yang paling baik adalah jual-beli yang menepati syariat dan pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri.”

Senang Membantu Pelanggan

Senang membantu pelanggan dapat direfleksikan dengan sikap ta’awun (tolong-menolong), sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis. Memberikan kemudahan bagi orang lain dalam dagang adalah salah satu orientasi bisnis dalam Islam. Dan Islam tidak mengajarkan hanya mencari keuntungan semata.

Menjaga Hak-Hak Konsumen

Hak-hak konsumen sangatlah penting dalam dunia bisnis. Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan hak untuk mengetahui kualitas barang dan hak untuk membatalkan pembelian saat transaksi masih berlangsung. Rasulullah SAW bersabda,

“Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan transaksi selama mereka belum berpisah. Jika mereka berkata benar dan menjelaskan segala sesuatunya dengan jernih, transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika mereka menyembunyikan sesuatu dan berdusta, berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus.”
“Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati saat ia membeli, saat ia menjual, dan saat ia membuat keputusan.”

Tidak Menjelekkan Bisnis Orang Lain

Menjelek-jelekkan bisnis orang lain di depan konsumen dengan maksud agar mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya adalah sikap yang tercela. Padahal, sikap tersebut justru bisa merusak reputasi, sehingga konsumen tidak menaruh respek. Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.” 

Demikian karakter yang diterapkan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis. Dengan hal-hal yang diridhoi Allah swt. tersebut, segala sesuatu akan menjadi berkah. Tak heran jika dahulu Rasulullah SAW menjadi pebisnis yang sukses. Dengan meneladani pribadi Rasulullah SAW, semoga kita senantiasa dilimpahi rahmat oleh Allah SWT.

(Ditulis oleh Fakhruddin Arrazy, Mahasiswa MS Syariah, IIU Islamabad)

Dinamisme Kegiatan PCIM Pakistan

Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Pakistan memiliki program yang bermacam-macam yang diadakan setiap minggunya. Perkumpulan mingguan para kader ini dilaksanakan secara rutin pada hari Selasa sore tersusun dengan kegiatan tadabbur ayat Al-Qur’an, kajian hadits dan pelatihan tulis menulis. Program-program ini teradakan atas musyawarah antar anggota dan pengurus . Tujuan dari dilaksanakanya perkumpulan mingguan rutin antar anggota PCIM adalah untuk menjalin silaturrahmi antar kader dan dalam rangka memfasilitasi mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dakwah ummat setelah menyelesaikan pendidikan di Pakistan nanti. Dari kegiatan-kegiatan diatas diatur oleh pengurus dan dibimbing oleh Dewan Penasihat PCIM sehingga tercipta kegiatan yang berbobot dan rapi.

Kegiatan yang dilaksanakan di sesi yang pertama adalah tadabbur ayat. Disampaikan oleh petugas setelah membaca Al-Qur’an secara bergilir antar anggota. Penjelasan tadabbur ayat ini diambil oleh petugas dari kitab-kitab tafsir dan hikmah dalam Al-Qur’an, sehingga memungkinkan anggota yang mendengarkanya mendapat ilmu-ilmu Al-Qur’an dan dapat menerapkanya dalam kehidupan nyata serta dapat menyampaikannya kepada masyarakat kelak.

Sesi yang kedua adalah kajian hadits yang berada di bawah naungan Majelis Tabligh. Setiap minggunya para anggota diwajibkan untuk menghafalkan hadits yang akan disampaikan di setiap pertemuan.  Kegiatan ini terlaksana dengan memberikan para anggota kesempatan untuk menyampaikan hadits dengan penjelasannya dari kitab-kitab para ulama salaf secara bergilir, sehingga akan melatih para kader  untuk menjadi pembicara yang baik serta memberikan ilmu pengetahuan tentang amalan-amalan yang dilaksanakan dan dikatakan oleh suri tauladan ummat manusia, Nabi Muhammad SAW. Dalam kajian hadits ini, kami memprioritaskan kajian hadits arba’in sebagai hadits-hadits yang paling utama diantara ribuan yang lainya menurut para ulama.

Di sesi yang ketiga dilanjutkan dengan pelatihan tulis menulis untuk menunjang para kader yang diberikan tugas menulis tulisan bebas sesuai dengan pemikiran masing-masing setiap minggunya, agar karya tulisnya menjadi berbobot dan lebih berkualitas. Maksud akan diadakanya program ini adalah teringat akan pentingnya kemampuan menulis yang harus dimiliki oleh calon ulama sebagai sarana dakwah bagi masyarakat dan diharapkan bisa menjad amal jariyah kelak. Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa tinta para ulama lebih baik daripada darah para syuhada.

Acara ditutup dengan evaluasi dan “sarung ajaib”. Dalam evaluasi ini, disampaikan di dalamnya koreksi-koreksi kegiatan agar kedepanya bisa berjalan lebih baik lagi yang dipimpin langsung oleh ketua. Dan juga untuk menghidupkan organisasi ini, serta melatih para kader untuk bershadaqah, diadakan di akhir acara “sarung ajaib”. Dinamakan sarung ajaib karena setiap anggota akan memasukan genggaman tangan yang berisikan uang iuran keikhlasan secara bersama-sama ke dalam sarung, dan akan mengetahui jumlah yang terkumpul setelah sarung dibuka tanpa diketahui siapa yang memberikan iuran paling besar. Demikianlah sejumlah rentetan dinamisme kegiatan mingguan PCIM cabang Pakistan, semoga terus istiqomah dan dapat memberikan manfaat untuk umat seluruh alam.

(Ditulis oleh Fahmi Wira Angkasa, mahasiswa fakultas Shariah & Law, IIU Islamabad)

Pluralisme Agama

Istilah pluralisme dewasa ini sungguh tidak asing di telinga pelajar kita, namun sejatinya istilah ini masih sulit dipahami maknanya oleh masyarakat sosial, karena pada hakikatnya pluralisme berasal dari bahasa asing yang sengaja dicangkok ke bahasa kita, sebagai istilah faham kekinian. Dan tampaknya istilah ini sangat cocok digunakan pada saat ini, dimana kondisi masyarakat kita yang plural (sangat beragam dalam segala hal termasuk dalam beragama). Tapi dalam hakikatnya faham ini sangat berbahaya bagi umat beragama terutama umat islam. Bagaimana tidak, faham ini sudah menyalahi aqidah islam, memaksakan bahwa semua agama itu sama  atau tidak jauh beda atau sama sama memiliki kebenaran. Oleh sebab itu, Islam bukan satu-satunya jalan yang sah untuk menuju kebenaran.

Bisa kita simpulkan sendiri dari faham ini bahwa semua agama itu jalannya benar dan yang menjadi tolak ukur bukan melalui agama apa anda beramal, tapi seberapa banyak anda beramal, jadi amal yang menjadi patokan pahala, agama hanya dianggap sebagai instrumen saja tanpa memberi pengaruh sedikitpun, dan tentu saja faham ini sangat salah dan tidak benar.

Konsep faham ini membawa persepsi kedamaian karena memiliki misi penyetaraan yang tujuaan besarnya untuk persamaan, seakan menghembuskan nafas toleransi yang sangat berlebihan dan memaksakan. Sedangkan MUI sendiri telah memberikan pendapat/fatwa  yang dikeluarkan pada MUNAS ke-7 tahun 2005, bahwa paham ini bertentangan dengan Islam, yang mengimani bahwa hanya melalui jalan islam yang dibawa oleh Nabi dan diridhai Ilahi Robbi.

Dalam pergaulan jelas bahwa kita mengakui bahwa agama yang ada di muka bumi ini bukan hanya Islam. Jadi pengakuan itu hanya pada batas keberadaan agama itu, bukan pada kebenaran masing-masing agama. Karena berbahaya jika kita salah memahami faham ini, bisa kita keluar dari aqidah Islam kita yang asli. Tak tanggung-tanggung, MUI pada waktu itu memberikan fatwa bahwa umat islam dilarang untuk mengakui apalagi mengikuti faham ini. Argumentasinya langsung dari Al Qur’an . Barang siapa yang mencari agama selain agama islam, maka sekali kali tidak akan diterima (agama itu) dan di akhirat termasuk arang yang rugi. Dan sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. Dan untukmu agamamu, dan untukulah agamaku.

 

Selain itu argumentasinya juga langsung dari hadist Nabi SAW, Imam Muslim (262 H) dalam kitab Shahih Muslim, meriwayatkan hadist Rasulullah SWA: “Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia mati akan menjadi penghuni neraka”. Begitu juga Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non-muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nasrani, Al-Najasyi Raja Abesenia yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, dimana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam (Hadits Riwayat Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam al Bukhari dalam Shahih al Bukhari)

Sebagai muslim kita harus berhati-hati dan selalu menyoroti faham-faham yang memiliki maksud mendangkalkan akidah umat Islam, karena hanya kita yang menjadi harapan masyarakat muslim dunia dalam mencegah faham yang rusak seperti ini.

(Ditulis oleh Joni Eko Pranoto, mahasiswa fakultas Ushuluddin, IIU Islamabad)

Kisah Pohon Apel dan Anak Lelaki

Pada suatu hari hiduplah seorang anak lelaki yang selalu bermain-main di sekitar pohon apel. Pohon tersebut merupakan pohon yang besar dan rindang. Mereka menghabiskan waktu bersama setiap harinya. Hingga terkadang anak lelaki itu pun hanyut dalam lelah dan menyandar pada batang pohon apel tersebut.

Suatu ketika anak tersebut merasa lapar dan bertanya pada pohon apel, “Maukah kau menolongku ?”, pohon tersebut menjawab, “Tentu ambil saja buah apel yang ada pada diriku, kau bisa makan sepuasnya sesuka hatimu, baiklah terima kasih”. Setelah merasa kenyang kemudian anak lelaki itupun kembali bermain seperti biasa.

Hari demi hari anak kecil tadi beranjak dewasa dan jarang bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun suatu ketika dia datang dan bertanya pada pohon apel, “Saya membutuhkan rumah untuk tempatku berteduh, maukah kau menolongku?”, “Tentu, ambillah tangkai yang ku punya dan buatlah rumah untukmu berteduh”. Dengan tersenyum lelaki tadi berkata terimakasih, kemudian lelaki tadi meninggalkan pohon apel dan pergi begitu saja.

Lama sudah lelaki tersebut meninggalkan pohon apel, namun kemudian datanglah dia dengan wajah yang murung, dan bertanya pada pohon apel, “Saya membutuhkan kapal untuk berlayar guna mencari nafkah, namun untuk saat ini saya belum memiliki uang, mau kah kau menolongku?”. “Tentu, ambillah batang pohon ku untuk kau jadikan sebuah perahu yang mana dapat membantumu berlayar”, jawabnya. Wajah yang murung tadi sekejap menjadi berbinar dan kembali bersemangat, tak lama kemudian dia pun pergi meninggalkan pohon apel untuk kesekian kalinya.

Pohon apel yang tadinya berbuah manis dan banyak, berdaun nan rindang serta memiliki ranting yang panjang dan bercabang, beralaskan batang yang kokoh dan kuat kini menjadi pohon tua yang tak berbuah hanya di temani akar tua yang mulai mengering mati. Pada saat itu datanglah kakek tua mendekati pohon tersebut dan bersandar guna melepas lelah, ternyata dia adalah lelaki tadi yang mana sejak kecil sering bermain disekitarnya. Sang pohon bertanya, “Kini saya adalah pohon tua yang tidak punya apa-apa untuk kau ambil wahai kakek tua”. Sang kakek menjawab, “Saya sudah tua dan sudah cukup lelah. yang saya butuhkan sekarang hanyalah istirahat dan menikmati sisa usia ku”.

Dari kisah diatas dapat kita ibaratkan seperti halnya orang tua kita, mereka dengan sekuat tenaga memberikan apa saja yang anaknya butuhkan, ketika kecil kita sering bermain di sekitar mereka, ketika kita lapar mereka yang memberikan kita makan, ketika kita meminta sesuatu mereka rela memberikan apa saja yang kita inginkan. Seperti terkesan agak sadis apa yang dilakukan oleh anak lelaki tersebut namun inilah fenomena anak zaman sekarang yang mana datang kepada orangtua, disaat mereka membutuhkan pertolongannya, juga seringkali mereka lupa untuk menjenguk atau bahkan mendoakannya, naudzubillah. Namun pada akhirnya ketika mereka mulai lelah dengan semua itu mereka akan kembali pada orangtua mereka.

Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas, semoga kita senantiasa selalu mendoakan orangtua kita dimanapun mereka berada. Dan jangan sampai kita berperilaku seperti anak lelaki itu, luangkan waktu kita untuk berkunjung atau sekedar menanyakan kabar dan keadaan mereka karena hal itu merupakan sumber kekuatan yang begitu berarti bagi orangtua kita.

(Ditulis oleh Zaki Mubarak, mahasiswa fakultas Ushuluddin, IIU Islamabad)

Syarah Hadits Arba’in No. 6: Ketentuan Hukum yang Halal, Haram, dan Syubhat

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ، اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُبُهَاتِ وَقَعَ فِي اْلحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Abdillah an–Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar, belum jelas) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Maka barangsiapa yang menjaga (dirinya) dari syubhat, ia telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, ia pun terjerumus ke dalam (hal-hal yang) haram. Bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, maka hampir-hampir (dikhawatirkan) akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa (raja) memiliki kawasan terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging tersebut buruk, buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Syarah (Penjelasan Hadits):

  1. Sabda Nabi saw., “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar, belum jelas) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang”, mengandung pengertian bahwa segala sesuatu itu terbagi menjadi tiga:

Pertama: Sesuatu yang jelas halalnya, seperti; biji-bijian, buah-buahan, hewan-hewan ternak. Itu semua halal jika tidak didapatkan dari cara yang haram.

Kedua: Sesuatu yang jelas haramnya, seperti meminum khamr (minuman keras memabukkan), memakan bangkai, menikahi wanita-wanita yang mahram.

Kedua hal ini diketahui oleh orang-orang khusus (para ulama) ataupun orang-orang awam.

Ketiga: Perkara-perkara syubhat (samar) yang berkisar antara yang halal dan haram. Ia bukan termasuk hal-hal yang jelas halalnya, dan bukan pula termasuk hal-hal yang jelas haramnya. Hal-hal inilah yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Namun, hanya diketahui oleh sebagian mereka.

  1. Sabda Nabi saw.,”Maka barangsiapa yang menjaga (dirinya) dari syubhat, ia telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, ia pun terjerumus ke dalam (hal-hal yang) haram. Bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, maka hampir-hampir (dikhawatirkan) akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa (raja) memiliki kawasan terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.” Ini kembalinya kepada bagian yang ketiga, yaitu perkara-perkara syubhat.

Maka, hendaknya seseorang menjauhinya. Karena pada hal demikian ini terdapat keselamatan bagi agamanya yang urusannya berkaitan antara ia dan Allah. Juga terdapat keselamatan bagi kehormatannya yang hubungannya antara ia dan orang lain. Sehingga, dengan demikian tidak ada lagi celah dan kesempatan bagi orang lain untuk mencelanya.

Namun, jika ia menganggap remeh perkara-perkara syubhat ini, ia pun mungkin akan terjerumus ke dalam perbuatan yang jelas keharamannya. Dan sungguh Nabi saw.,` telah memberikan sebuah perumpamaan hal itu bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang.

Maka apabila ia jauh dari kawasan terlarang tersebut, ia pun akan selamat dalam menggembalakan hewan-hewan ternaknya. Namun, jika ia dekat-dekat dengan kawasan terlarang tersebut, dikhawatirkan akan memasukinya berserta hewan-hewan ternaknya, sedangkan ia tidak menyadarinya.

Yang dimaksud dengan (الْحِمَى) adalah lahan atau kawasan (khusus) yang subur (yang biasa) dijaga oleh para penguasa (raja). Mereka melarang orang lain untuk mendekatinya. Maka, orang yang mengembalakan hewan-hewan ternaknya, ia sudah sangat dekat dan hampir-hampir memasukinya. Dengan demikian, ia membahayakan dirinya karena akan dihukum.

Sedangkan, kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Maka wajib bagi setiap orang untuk menjauhinya. Sehingga, ia pun wajib menjauhi perkara-perkara syubhat yang bisa mengantarkannya kepada perbuatan haram.

  1. Sabda Nabi saw., “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging tersebut buruk, buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

(الْمُضْغَة) adalah sepotong daging dengan ukuran yang dapat dikunyah. Hal ini mengandung penjelasan agungnya kedudukan hati dalam tubuh ini. Sebagaimana juga mengandung penjelasan bahwa hati adalah penguasa seluruh anggota tubuh. Baiknya seluruh anggota tubuh bergantung pada baiknya hati, dan rusaknya anggota tubuh bergantung pada rusaknya hati.

  1. Imam An-Nawawi berkata, sabda Nabi saw.,(وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُبُهَاتِ وَقَعَ فِي اْلحَرَامِ) …”dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, ia pun terjerumus ke dalam (hal-hal yang) haram….”, mengandung dua makna/perkara:

Pertama: Ia terjerumus ke dalam keharaman, namun ia mengira bahwa hal itu tidak haram.

Kedua: Ia mendekati (hampir-hampir) terjerumus ke dalam keharaman. Dan hal ini seperti perkataan (المِعَاصِي بَرِيْدُ الْكُفْرِ) ”Maksiat-maksiat mengantarkan kepada kekafiran.”. Karena seseorang, jika terjatuh kepada perbuatan menyimpang (maksiat), ia akan bertahap dan berpindah kepada kerusakan (maksiat) yang lebih besar dari yang semula. Telah dikatakan, hal ini diisyaratkan oleh ayat,

وَيَقْتُلُونَ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“…dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali ‘Imran: 112).

Maksudnya, mereka bertahap dalam bermaksiat, sampai akhirnya pada tahapan membunuh para nabi. Dan dalam hadits disebutkan,

لَعَنَ اللَّهُ السَّارِقُ، يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ، وَيَسْرِقُ الْحَبْلَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ

“Allah melaknat pencuri, ia mencuri sebutir telur lalu dipotong tangannya, ia pun mencuri seutas tali lalu dipotong tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.)

Maksudnya, ia bertahap dalam mencuri, mulai dari mencuri sebutir telur, lalu seutas tali, dan seterusnya.

 

  1. An-Nu’man bin Basyir –radhiyallahu ‘anhuma– termasuk di antara para sahabat kecil. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, umur beliau baru mencapai delapan tahun. Dan dalam periwayatan hadits ini, ia telah berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ

“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”… Hal ini menunjukkan sahnya periwayatan anak kecil mumayyiz (yang sudah bisa membedakan yang baik dan buruk). Dan segala sesuatu yang ia dengar (dari Rasulullah) pada masa kecilnya, lalu ia sampaikan tatkala ia dewasa, maka diterima. Demikian halnya orang kafir yang mendengar pada saat ia kafir, maka (juga diterima) jika ia menyampaikannya tatkala ia (sudah menjadi) muslim.

 

Pelajaran dan Faidah Hadits:

  1. Penjelasan pembagian segala sesuatu dalam syariat ini kepada tiga bagian, halal yang jelas, haram yang jelas, dan perkara yang samar berkisar di antara keduanya.
  2. Sesungguhnya perkara yang syubhat tidak diketahui oleh mayoritas orang, dan hanya sebagian mereka saja yang mengetahui hukumnya dengan dalilnya.
  3. Meninggalkan perkara yang syubhat sampai (benar-benar) diketahui kehalalannya.
  4. Perumpamaan digunakan untuk memahami perkara yang abstrak kepada perkara yang kongkrit.
  5. Sesungguhnya seseorang, jika ia terjatuh ke dalam perkara syubhat, ia akan mudah meremehkan perkara-perkara yang jelas (haramnya).
  6. Penjelasan agungnya kedudukan hati, dan seluruh anggota tubuh mengikutinya. Seluruh anggota tubuh akan baik jika hatinya baik, dan akan buruk jika hatinya buruk.
  7. Sesungguhnya kerusakan lahir (seseorang) menunjukkan kerusakan batinnya.
  8. Berhati-hati (dan menjuhi diri) dari perkara-perkara syubhat merupakan penjagaan diri terhadap agama seseorang dari kekurangan, dan penjagaan terhadap harga dirinya dari celaan-celaan.

(Oleh : Anshar Zulhelmi S.Pd.I, Mahasiswa S2 IIU Islamabad Fakultas Bahasa Arab)

Referensi:

Law of the Few

Law of the few, atau yang bisa juga kita sebut ” Hukum tentang yang sedikit” , bagaimana sebuah kaum atau golongan, bahkan perorangan yang minoritas bisa menimbulkan suatu epidemis yang sangat dahsyat juga bisa berpengaruh secara luas di masyarakat. Terkadang memang ada dua dampak yang dihasilkan dari epidemis pada masyarakat, penyebaran secara massive bisa menghasilkan dampak  yaitu 2 perbedaan yang sangat kontras, tekadang dapat menghasilkan suatu yang positif, dan bisa juga menghasilkan sesuatu yang negatif.

Jumlah yang tidak banyak tidak selalu kalah dalam suatu hal, melainkan ia bisa dirubah menjadi sesuatu yang dahsyat, dan dapat mempengaruhi mereka kaum mayoritas. Malcolm Gladwell penulis berkebangsaan Inggris, dalam bukunya ” Tipping Point” ia mencoba mengulas bagaimana hal-hal kecil berhasil membuat suatu perubahan besar, Ia mencoba mengambil contoh dari merk sepatu yang masyhur dan dapat kita temui bahkan hampir di semua negara, merek atau brand yang mungkin sangat tidak asing di telinga kita, yaitu ” Hush Puppies”, dikalangan pemuda terutama, merek ini saat ini menjadi trend bahkan menjadi demam mereka untuk saling unjuk gengsi.

Berkaca kembali pada tahun 1994-1995, pada masa itu sepatu merek Hush Puppies tersebut terbilang sudah mati, penjualannya menurun hingga 30.000 ribu pasang per tahun, kebanyakan toko dan gerai yang ada sudah tidak menjualnya kembali. Wolverine perusahaan yang memproduksi Hush Puppies tentunya akan berfikir berulang kali jika ingin memproduksinya kembali. Suatu keajaiban terjadi ketika dua eksekutif Hush Puppies , Owen Baxter dan Geofrey Lewis bertemu dengan perancang mode yang tinggal di kota New York, ia menyampaikan bahwa mendadak Hush Puppies digandrungi oleh para anak anak muda di klub-klub dan cafe-cafe di pusat bisnis Manhattan, awalnya mereka menganggap ini sebuah gurauan, karena mana mungkin sebuah merek sepatu yang modelnya begitu klasik dan kalah bersaing dengan model terbaru bisa begitu laris ? padahal ketika itu Isaac Mirzahi seorang fashion designer asal Brooklyn New York mengenakan sepatu bermerek Hush Puppies.

Akhir musim gugur 1995, pesanan datang bak air bah yang begitu banyak, Hush Puppies bisa menghasilkan 430.000 pasang sepatu ketika itu, luar biasa bukan? , Ini dikarenakan ada beberapa orang yang memiliki pengaruh pada masa itu, mengenakan sepatu ini, sehingga menjadi demam yang menjalar begitu cepat dikalangan anak muda. Prinsipnya adalah walaupun mereka ada dalam jumlah yang tidak banyak, salah seorang diantara orang orang yang sedikit ini memiliki keistimewaan, dan ia telah mempunyai visi tentang kecenderungan tersebut, kemudian memiliki kontak sosial yang kompleks dipadu dengan gairah semangat serta kepribadian mereka, jadilah suatu epidemis yang begitu dahsyat.

Ada baiknya jika para pemuda masa kini, memposisikan dirinya sebagai seseorang yang spesial, walau mereka bukanlah suatu golongan yang mayoritas, akan tetapi minoritas yang spesial ini nantinya akan bisa menularkan hal hal positif yang bisa merubah sebagian besar mayoritas dan akhirnya timbul lah banyak kekuatan positif dari kebaikan yang mereka sebarluaskan.

(Ditulis oleh Fathi Rabbani, Mahasiswa Universitas Islam Madinah)

 

Manusia Adalah Botol Kosong

Rizki manusia sangatlah banyak dan luas mungkin tidak terhitung bentuknya, karena rizki bukan hanya berbentuk uang namun bisa berupa kesehatan, kecerdasan, kemampuan, kelapangan waktu dan lain sebagainya. Banyak orang yang sehat tapi tidak menganggap bahwa kesehatan yang ia miliki adalah rizki baginya, banyak orang yang cerdas serta memiliki IQ diatas rata-rata, tapi sayangnya tidak menganggap bahwa kecerdasannya tersebut merupakan rizki dari-Nya. Banyak diantara kita yang memiliki kemampuan lebih dari orang pada umumnya namun tidak mengira bahwa itu merupakan rizki yang telah Allah gariskan kepada kita. Namun kebanyakan dari kita menganggap bahwasanya rizki hanya diukur melalui hal yang sifatnya materi berupa uang jabatan dan kemewahan.

 

Pada hakikatnya semua yang Allah berikan kepada kita sudah sesuai dengan kadar dan porsinya, orang yang miskin bisa menjadi kaya begitupun sebaliknya orang yang kayapun suatu saat bisa jadi miskin. Dalam hal ini semua tergantung pada diri mereka sendiri bagaimana ia berusaha dan bertawakkal kepada rabb-Nya. Karena sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada seluruh umat manusia yang ada di muka bumi ini agar senantiasa berusaha dan bertawakal kepadaNya, dan Allah akan memperluaskan rizki bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Sesuai firman Allah dalam surat Al-Isro ayat 30 :

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيراً بَصِيراً

Dalam hal ini manusia ibarat sebuah botol kosong, bila kita isi air mineral maka harganya 3000 rupiah, bila kita isi jus buah maka harganya 10.000 rupiah, bila kita isi madu maka harganya bisa menjadi ratusan ribu. Begitulah hakikat manusia yang sebenarnya sama dalam konteks luarnya namun berbeda isi yang ada didalamnya tergantung bagaimana usaha kita untuk mengisi botol tersebut. akankah kita isi dengan air mineral saja atau kita isi dengan madu.

Sukses merupakan hak setiap orang, tidak memandang status, ras, maupun hal kecil lainnya. Banyak diantara kita contoh kisah-kisah orang yang memiliki keterbatasan fisik dalam dirinya namun tidak menghalanginya untuk tetap terus melangkah maju meningkatkan kapasitas diri sehingga kesuksesan pun akhirnya datang menghampirinya. Karena prinsip dalam hidup adalah barang siapa yang bersungguh-sungguh dapatlah ia,  Maka dari itu marilah kita tingkatkan kapasitas diri kita. Jangan sampai kita hanya pasrah dengan apa yang ada saja  hanya berisikan air mineral saja yang hanya bernilai kecil, tapi isilah diri kita dengan madu yang mana lebih berharga dan bisa bermanfaat untuk kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.

(Ditulis oleh Zaki Mubarak, Mahasiswa IIU Islamabad, Fakultas Ushuluddin)

Hari Sengatan Dunia

Oleh: Anshar Zulhelmi S.Pd.I . MS Arabic . IIU Islamabad

Fenomena lebah sudah sangat mendunia, madu yang bermanfaat dan sengatan yang dapat menyebabkan kenangan tersendiri bagi penikmatnya. Pada dasarnya lebah banyak memberikan manfaat kepada manusia, semua partikel dari kehidupan lebah dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kesehatannya, dan apa yang dihasilkan oleh lebah dapat dijadikan obat bagi segala penyakit. Sekarang banyak perusahan yang menjadikan lebah sebagai penghasil kantong mereka, lebah dapat menghasilka madu, obat segala penyakit, sarang lebah dapat dijadikan propolis, bahan dasar bagi obat kesehatan, bahkan sengatan lebah dapat berguna bagi pengobatan bekam, pasien yang menderita penyakit-penyakit tertentu dapat disembuhkan dengan sengatan lebah yang konon katanya dapat menyebabkan kematian.

Sengatan lebah yang menyebabkan kematian pernah terjadi di kawasan gunung kidul. Berawal dari tukul yang sedang mencari kayu bakar untuk emaknya di tebing gunung kidul, kayu yang dikumpulkan olehnya sangat banyak, sehingga untuk membawa pulang kayu-kayu itu ia mengaitnya di atas bahu dengan sehelai kain, ketika dalam perjalanan kayu kering yang berada pojok kaitan menyentuh sarang lebah yang mengakibatkan kematiannya. Tukul mati bukan karena sengatan lebah itu, tetapi ia jatuh ke jurang yang berada tepat di depannya saat ia dikejar lebah.

Ada hal unik yang terjadi di kawasa kampus Islamic university hari selasa, 14 Oktober yang lalu, di saat hujan badai menghantam kota Islamabad banyak kejadian aneh yang terjadi di dalam kampus, pohon tumbang, motor cd70 banyak yang mogok, bahkan ada yang terkena sengatan lebah secara masal. Sengatan lebah dunia, begitu orang-orang menyebut hari itu, sengatan lebah yang mengakibatkan beberapa orang yang berasal dari belahan dunia yang berbeda terkena sengatan secara bersama, kejadian itu membenarkan ungkapan yang mengatakan “suka duka kita tetap bersama”. Walaupun mereka berasal dari Negara yang berbeda, tapi memiliki duka yang sama, mereka terdiri dari Negara Indonesia, Thailand, Malaysia, Pakistan, Afghanistan, Saudi Arabia, Mesir, Somalia, Negeria, Rusia, Turki, dan lain-lain.

Orang-orang yang setia dalam kebersamaan sengatan itu mengalami jangka duka yang bermacam-macam, ada yang sedetik setelahnya tersenyum, ada yang tertawa, ada yang mengalami kelainan jiwa, ada yang merasa sedih secara berlarut, dan ada juga yang sampai pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit setempat. Rosali seorang penikmat sengatan yang berasal dari Thailand, merasakan tiga tusukan di badannya, tusukan pertama membuatnya seperti orang mabuk, tusukan kedua mendatangkan burung-burung bernyanyi di atas kepalanya, dan tusukan ketiga membuatnya tak sadarkan diri. Kejadian ini membuat para dosen dan pegawai Islamic university gempar dan sempat menghentikan rutinitas kampus sementara waktu. Rasa resah dan takut mulai bermunculan di benak pada pelajar untuk melewati jalan menuju kelas mereka, sehingga para pelajar itu meliburkan kelas mereka untuk memperingati hari sengatan dunia itu.

Kaya baju, Dompet Kosong

Oleh : Anshar Zulhelmi S.Pd.I MS Arabic

Kehidupan yang penuh dengan gaya, fashion dan gemerlap kemewahan sudah menjangkit kepada sebagian masyarakat Indonesia, Negara kita tercinta. Pakaian bisa menjadi nilai sangka orang lain, jika pakaiannya bagus dan fashionable sesuain dengan trend zaman sekarang, ia akan dianggap sebagai orang yang educated, orang yang banyak duit. Sebaliknya jika kita memiliki tumpukan duit dalam dompet, namun pakaian yang kita gunakan kelihatan miskin dan gembel, sudah sewajarnya menyiapkan mental untuk tidak heran dengan pelayanan yang kurang baik ketika kita makan di sebuah restoran yang berkelas, padahal kita membayar makanan yang kita makan tidak menggunakan pakaian yang kita pakai, kita tidak membayar segelas kopi yang kita minum dengan kendaraan yang kita tunggangi untuk menuju café, tapi kita membayar semua itu dengan alat tukar yang berupa duit.

Memang aneh kadang melihat kemodernan yang kita hadapi sekarang, mereka yang menggunakan baju yang bagus, gaun yang indah, serta setelan jas yang gagah menjadi prioritas pelayanan daripada mereka yang menggunakan pakaian biasa, mungkin karena anggapan yang sudah tertanam dalam pikiran, bahwa jika orang yang berpenampilan rapi adalah orang yang berduit, padahal belum tentu jika pakaian mereka rapi banyak duitnya, bahkan ada orang yang sangat rapi dengan menggunakan setelan safari yang selalu siap siaga untuk membukakan pintu mobil majikannya, dialah sopir.

Ketika kita singgah di depan restoran yang berkelas dan kita menggunakan motor Honda 70cc, jangankan pintu terbuka otomatis, mau masukpun kita akan ditanyakan apa yang hendak kita lakukan di tempat yang seakan kita tidak mampu untuk mencapainya, begitulah paradigma yang telah lama bersemedi dalam otak kita, yang hanya melihat penampilan sebagai ukuran kekayaan seseorang, padahal di dalam restoran itu sendiri banyak orang yang menggunakan pakaian yang rapi dan bagus namun dompet tipis, merekalah para pelayan restoran.

Tama yang merupakan seorang mahasiswa ilmu sosial universitas Gajah Mada di kota Jogja, walaupun kere dan duit yang pas-pasan, ia sangat memanfaatkan situasi pemikiran ini, dengan bermodalkan setelan jas pemberian seorang temannya yang setia, Tama selalu dapat makan siang gratis, pasalnya di dekat kelasnya ada gedung milik kampus yang disewakan untuk umum, dan biasanya banyak yang melaksanakan hajatan dan nikahan di gedung itu, tanpa harus menunjukkan kartu undangan dan tanpa adanya pemeriksaan sebelum masuk ke dalam gedung, setelan jas menjadi senjata ampuh agar dapat menghilangkan kecurigaan orang lain akan tamu yang tak diundang ini. Dengan leluasa Tama dapat menikmati hidangan makanan gratis dan dia bisa mengambil sepuasnya tanpa ada yang menanyakan siapakah dirinya? Jas yang menjadi senjata andalannya dapat memberikan nilai lebih daripada isi dompetnya.

Hal sebaliknya terjadi kepada Adin anak juragan emas kota Depok, dengan pakaiannya yang sangat tidak layak disebut sebagai anak orang kaya, ia sangat males jika harus makan di restoran yang berkelas, selain pelayanan yang ia terima kurang ramah dan kadang mata sinis orang yang berada di sekelilingnya membuat ia tak nyaman untuk berlama-lama berada di dalam, tapi mata sinis mereka yang melihat kegembelan Adin ketika berada di dalam restoran akan berubah seketika itu juga, jika mereka melihat BMW yang dikendarainya, seakan-akan mereka tidak percaya dan menuduhnya sebagai pencuri, dan ada yang mengira mobil siapa yang ia curi, bagaimana dia bisa mengendarai mobil semewah itu dengan pakaiannya yang gembel, yang jauh dari kata layak untuk pengemudi mobil mewah.

Tapi begitulah sifat manusia yang berbeda antara satu sama yang lainnya, ada yang kaya tetapi gembel, ada yang kere tapi tampang sok kaya, namun demikian keadaan yang baik adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, jika keadaan harus berpakaian rapi , janganlah menggunakan baju yang lusuh, sebaliknya jika tidak ada hal yang mengharuskan untuk berpakaian yang bagus, kenapa kita harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih baju mana yang akan kita pakai untuk saat ini. Membuang waktu yang sangat berharga hanya untuk memilih baju sangat merugikan dan membuat orang lain dirugikan, contohnya; jika kita ingin mengadakan pesta untuk merayakan hari pernikahan, dan bingung dengan baju yang akan kita pakai, sehingga harus membuka dan memilih dari koleksi ratusan baju yang ada dalam lemari, satu baju dilihat dan ingin dicoba selama satu menit, jika kita mencoba untuk mencocokkan keseluruhan atau setengahnya saja dari koleksi baju yang kita punya, maka itu akan menghabiskan sekitar 50 menit, waktu terbuang sia-sia hanya demi penampilan yang semu.

Seandainya waktu itu kita gunakan untuk berinteraksi dengan saudara dan teman yang kita sayangi, kita dapat berbagi cerita, saling berkisah tentang kehidupan yang kita lalui bersama, bernostalgia hal-hal yang pernah kita hadapi di masa lalu, sungguh akan sangat bermanfaat dan bahkan bisa mengembalikan kenangan-kenangan yang pernah menghilang dari memori kita. Momen yang sangat berharga itu akan terbuang tanpa ada hal yang memberikan  dampak positif kepada diri kita, jika kita lebih mementingkan baju yang akan kita gunakan ketika acara, apakah para undangan yang datang akan selalu melihat baju kita? Tidak, mereka hanya melihat baju yang kita kenakan sekilas saja dan selebihnya, siapa diri kita menurut mereka ialah ketika berinteraksi dengan mereka.

Dalam sebuah pertemuan, bu Ine yang sangat mementingkan penampilannya tidak mempunyai banyak teman yang menjadi teman bicaranya, memang baju yang dikenakan bu Ine terkesan mewah, dan membuat kagum siapa saja yang melihatnya, namun mereka yang kagum hanya sekilas saja, dan selanjutnya sikapnya dalam bergaul yang akan menentukan banyaknya teman yang senang dengannya atau tidak. Jika baju menjadi simbol luar dari kepripadian diri kita yang selalu ditonjolkan dan dinomor satukan maka, dia akan menjadi pribadi yang berjiwa kaya baju, tidak kaya jiwa dan kaya hati. Padahal kaya jiwa dan kaya hati merupakan modal utama dalam bersosial, bukan baju yang hanya menjadi simbol abstrak belaka.

Pikiran yang sudah terpengaruh oleh doktrin baju, doktrin pakaian dan doktrin lainnya, yang hanya melihat orang lain dari luarnya saja akan sangat merugikan dirinya, bahkan dapat merugikan orang lain yang berinteraksi dengannya. Pikiran yang hanya melihat orang lain pada hartanya saja juga sangat berbahaya, karena jika hartanya habis akan sangat mudah sekali ia berpaling. Pikiran yang hanya melihat orang lain hanya pada batasan bajunya saja akan menyebabkan akalnya sempit dan tidak berkembang, namun jika dia melihat orang lain lebih kepada hatinya, sifatnya, akhlaknya, maka pikirannya akan terbuka dan dapat melihat secara positif.

Kaya baju namun hati kosong dari nilai-nilai kehidupan berbahaya bagi pribadi yang masih berkembang, karena jika hati telah dimasuki oleh hal-hal yang melenakan dan penuh dengan kesenangan dunia, hati akan sangat sulit untuk mengingat kepada Allah, karena kebesaran dunia telah masuk di dalam hatinya mengalahkan kebesaran Allah yang semestinya harus terus terpelihara dalam setiap jiwa insan yang beriman. Begitu juga sebaliknya, dompet kosong dapat menimbulkan masalah yang rumit, karena setiap manusia butuh terhadap makanan, yang mana dompet berisi merupakan sarana untuk mendapatkan reseki, tidak sedikit orang yang menggadaikan imannya hanya demi sebungkus nasi, menjual imannya demi secangkir kopi.

Dua hal ini yang harus selalu kita perhatikan dalam menghadapi masalah ummat yang sudah sangat jauh dari masa Rasulullah SAW, pertama kufur nikmat atau sombong, yang dapat menjauhkan jiwa dari mengingat Allah, kedua miskin atau kere, yang dapat menyebabkan iman tergadaikan hanya demi mememuhi kebutuhan perut. Hal ini sebagaimana do’a yang pernah Nabi Muhammad Saw panjatkan, “Ya Allah, sesungguhnya kami meminta perlindungan kepada-Mu dari kufur dan miskin.”